Minggu, 04 Januari 2009

cer...cerita...pen...pendek

LANDUNG DAN SEPEDA TUA

Melangkah gontai di trotoar jembatan Sidolayu, dipayungi mendung dan gerimis kecil yang menetes membasahi tubuh, Landung, seorang jejaka muda, usia 20-an menatap kosong pada tujuannya. “Aku selalu gagal mendapatkan hatinya, kurang apa aku ini?” Gumam Landung dalam langkahnya.
Padatnya jalanan, berjubalnya orang di trotoar, pedagang-pedagang kaki lima yang tak segan menggelar barang dagangannya hungga hampir memakan seluruh trotoar dan anak-anak kecil yang berlarian melewati orang-orang di trotoar itu tidak mengusik sedikit pun penerawangan Landung. Dalam langkahnya ia terus memikirkan sesuatu yang sampai membuat dirinya tidak lagi memikirkan arah mana yang akan ia tuju.
Suatu waktu, setelah jalan panjang yang ia lewati, Landung terduduk, diam dan merenung. Disampingnya duduk seorang bapak tua, beruban penuh, keriput-keriput menghiasi wajahnya, dan tetesan peluh menghiasi tubuhnya. Ia mendekati Landung, menatapnya, dan akhirnya ia berkata,”Beban berat anak muda?” Landung menatap dan terdiam tak menjawab.
Bapak tua itu kemudian berjalan menuju sepeda tua yang teronggok tak jauh di hadapan Landung, penuh dibelakangnya onggokan 3 karung-karung besar yang pastinya membebani si bapak itu. Landung kembali ke alam bawah sadarnya, ”sudah berkali-kali aku mencoba, sudah berulang kali aku menyatakannya, sudah berkali-kali aku mencoba meyakinkannya, tetapi tetap saja aku tak bisa mendapatkan hatinya untuk menerimaku.”ia kembali memikirkan hal yang selalu melayang-layang dipikirannya akhir-akhir ini. Lamunan Landung terhenti akibat suara keras yan tak jauh dari dirinya
”Gedubraaaakkkk....!!!!!” Landung menengok dan mencari asal suara itu.
Suara itu ternyata dari sepeda tua bapak yang tadi ada disamping Landung. Ia terjatuh dan tertindih sepeda tuanya. Landung berlari dan membantu bapak tua itu membenahi sepedanya dan mengangkat bapak tua itu dan memapahnya menuju samping jalan.
”Kenapa kau membantuku anak muda?” Kata bapak itu.
”Bapak tak mau saya bantu?” jawab landung.
”Bukankah kau sedang melamun dan tak mau diganggu, hingga ketika aku mencoba bertanya padamu kau pun tak menggubrisnya sama sekali.”
”Bukan begitu, aku justru malah kembali memikirkannya setelah bapak berkata seperti itu.”
Pembicaraan mereka terhenti tatkala bapak tua itu beranjak sambil terpincang-pincang menuju sepeda tuanya, Ia memeriksa barang bawaannya, hampir setengahnya sudah tercecer di jalanan. Bapak itu berbalik, menatap Landung dan berjalan mendekatinya. Ia menghela nafas lalu duduk di samping Landung.
”Setengah isi karung itu sama saja setengah nyawaku anak muda.” ucap bapak tua itu. ”Tapi aku masih punya sedikit tenaga untuk mencari setengah nyawaku itu lagi” kembali ia berucap.
Landung menatap bapak tua itu, terpana, heran, dan kagum.
”Bagaimana bapak punya kekuatan seperti itu?”
”Aku ingin melihat anakku bisa tumbuh dewasa, dan aku ingin sekali melihatnya hidup lebih baik dariku, nak.”

Sungguh, Landung tertikam hatinya setelah mendengar jawaban bapak itu. Betapa besar kekuatannya demi anaknya. Landung bahkan tak ingat lagi bagaimana usaha orang tuanya, bahkan ia sebenarnya tak peduli. Ia hanya peduli bahwa ia butuh kehidupan yang layak. Ia baru mulai sadar ketika akhir-akhir ini ia berusaha dengan sekuat tenaga, seluruh waktunya ia habiskan untuk berputar-putar dari satu gedung ke gedung yang lainnya untuk meluluhkan hati orang-orang berdasi yang selalu duduk di meja besar, di dalam ruangan ber-AC.
”Aku sedang bingung bagaimana aku bisa meluluhkan hati orang, pak.” celetuk Landung kepada bapak tua itu.
”Seorang wanita, nak?” jawab bapak itu. ”Masalah cinta, toh?” ucapnya lagi.
”Meluluhkan hati bukan hanya demi cinta, pak.”
”Lalu?”
”Bisa juga demi hidup, pak.”
Bapak tua itu tesenyum pada Landung. ”Ternyata kau juga memikirkan hidup, nak. Kupikir anak muda sekarang hanya punya pikiran mengenai cinta.”
Landung kembali terdiam dan masuk kembali ke alam bawah sadarnya. Ia kembali memikirkan bagaimana ia bisa mendapatkan apa yang ia inginkan akhir-akhir ini.
”Usaha dan doa, nak.” tiba-tiba bapak tua itu memecah lamunan Landung.
”Tapi memang bukan itu saja, apa yang sudah kau perbuat selama ini, nak?”
”Itu yang jadi masalah, selama ini aku tak pernah berbuat apa-apa. Aku selalu menuntut semua dari orang lain.”
”Separah apapun kelakuanmu di masa lalu, semua bisa diperbaiki nak. Banyak yang sebenarnya bisa kau lakukan, asal kau mau.”
”Apa mungkin bisa kulakukan dengan kemampuan yang sekarang kumiliki? Aku benar-benar tak pernah melakukan sesuatu yang selain hal-hal wajar yang seseorang lakukan, pak!”
”Jika kau mau, aku bisa meyakinkanmu mengenai hal itu, nak.”
”Bapak bersungguh-sungguh?”
”Ada banyak hal diluar sana, nak. Semua disediakan untukmu. Tinggal bagaimana kau menggunakannya dan mencarinya. Jika kau mau, semua bisa kau dapatkan, nak.”
”Lalu apa yang harus saya lakukan sekarang?”
”Sungguh kau bersedia?”
”Sungguh!”
Bapak tua itu berjalan menuju jalanan, mengambili isi-isi karung yang tercecer tadi, mengumpulkannya dan menjejalkanya ke dalam karung-karung lain. Landung bingung apa yang dilakukan bapak tua itu? Bagaimana dia bisa mendapatkan jawaban dengan melihat bapak tua itu memasukkan isi karung, membenahi karung, dan seluruh yang ia lakukan itu?
”Jalan Kapuas nomor 8, nak. Bilang kau penggantiku.”
Landung semakin bingung, ”apa maksud bapak tua ini?” pikirnya.
”Kau akan menemukan jawaban setelahnya.”
”Aku harus membawa sepeda itu kesana maksud bapak?”
”Jika kau berpikir dengan itu bisa mebuatmu menemukan jawaban.”

Dengan sedikit ragu dan dengan penuh kebingungan akhirnya Landung beranjak dan segera mendekati sepeda bapak tua itu mencoba menaikinya dan melakukan apa yang bapak tua tadi ucapkan.
”Jalan Kapuas nomor 8? Yang benar saja! Itu 8 km dari sini, gila bapak itu. Bagaimana aku bisa menemukan jawaban hanya dengan melakukan hal bodoh seperti ini?”
Namun ada suatu hal lain yang membuatnya terus mengayuh sepeda tua yang mengangkut banyak sekali bawaan dibelakangnya. Landung terus mengayuh dan mengayuh, melewati jalan-jalan kecil, menerobos ramainya jalanan, sambil terus berpikir. Setelah cukup jauh ia kembali berpikir, tanpa ia sadari ia kembali berucap dalam lelahnya ”Ini bukan tindakan bodoh, tapi sungguh tindakan terpandai yang pernah kulakukan.” sambil terus mengayuh, ia kini tersenyum dan berucap ”Terima kasih pak tua.”

Andreas Praditya
Cerita Pendek
08/270820/SP/23103

Tidak ada komentar: